Type something and hit enter

ads here
author photo
By On
advertise here
Profesi paling berbahaya di dunia
Ilustrasi Profesi Nelayan penangkap ikan di laut alaska.

BACALINE - Profesi penangkap kepiting besar alaska hingga saat ini tercatat sebagai pekerjaan paling berbahaya di dunia . Alasannya , penangkapan kepiting besar alaska ini berlangsung di musim dinggin yang sangat mematikan .

Untuk satu ekor kepiting Alaska ini dijual dengan harga hampir 2 juta rupiah. Alasan kepiting ini mahal, dikarenakan penangkapannya yang sangat sulit dan berbahaya.

Foto Hasil Penangkapan Kepiting alaska.

Maka untuk membayar orang yang menangkapnya juga sangat tinggi. Itulah alasan kenapa pekerjaan ini dibayar dengan cukup fantastis. Kepiting yang mereka tanggkap merupakan kepiting dengan harga termahal pula sesuai dengan bayaran gaji saat mereka bekerja. Kepiting ini merupakan kepiting dari Alaska yang di tangkap dengan tingkat kesulitan yang tinggi maka dari sanalah mereka dapat digaji sedemikian besar.

Karena dalam menangkap sebuah kepiting ini kemungkinan untuk terluka 50 kali lebih besar daripada pekerjaan lainnya.

Pasang Surut Air dan Badai yang Dilalui Oleh Para Penangkap.

Di tengah laut, mereka harus selalu memperhatikan apa yang terjadi disekitar mereka. Apalagi waktu menangkap kepiting, mereka harus rela diserang keganasan kepiting.

Disamping itu mereka harus bekerja diatas laut dengan suhu dibawah 0 derajat celcius sepanjang waktu 20 jam setiap harinya.

Dengan pekerjaan yang begitu sulit dan sangat berbahaya, setiap pekerja biasanya selalu pulang dengan banyak luka di seluruh tubuhnya.

Nelayan penangkap kepiting di laut Alaska.

Namun sebelum melaut, mereka akan makan bersama di sebuah restoran untuk mengobrol dan berpesta, hampir sama dengan pesta perpisahan. Karena kepergian mereka tidak tahu apakah bisa pulang dengan selamat atau tidak. Mengingat, pekerjaan ini merupakan nyawa taruhannya.

Pekerja tersebut juga menambahkan bahwa kami akan selalu melakukan pesta seperti saat ini sebelum kami memulai pekerjaan kami sebagai wujud perpisahan terhadap keluarga maupun terhadap rekan satu kerja kami, dikarenakan kemungkinan hidup untuk balik kesini lagi hanya 20% dan 80% merupakan kegagalan karena ganasnya kondisi disana.